Prof. Sahiron Syamsuddin: Pesantren adalah Sumber Kekuatan Moderasi Islam


www.krapyak.org_Subkultur Pesantren adalah Sumber Kekuatan Moderasi Islam. Keyakinan ini disampaikan oleh Prof. Sahiron Syamsuddin sebagai salah salah satu narasumber ahli bersama Prof. Marrik Bellen (Direktur Offisial Universitas Leiden) dan KH. Amal Fathullah Zarkasyi (Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor dalam diskusi spesial panel dengan tajuk “Reinventing Subculture of Pesantren and Islamic Moderation”, sesi ini mendiskusikan bagaimana pesantren sebagai suatu subkultur pendidikan menjadi kekuatan dan inspirasi pengembangan karakter beragama yang moderat. Diskusi Spesial panel menandai acara inti Muktamar Pemikiran Santri Nusantara pada kamis (11/10) lalu di Pesantren Krapyak.

Prof. H. Sahiron yang merupakan Wakil Rektor II dan Dosen IAT UIN Sunan Kalijaga membuka sesinya dengan adagium terkenal di kalangan pesantren: “Al-muhafazoh ‘alaa qoodimish shaalih wal akhdz bil jadidil ashlah”. Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil tradisi baru yang lebih baik. Adagium ini terkenal karena menggambarkan dasar sistem pesantren yang menggabungkan tradisionalisme dan modernisme.

Umumnya di pesantren bagian pertama yaitu al muhafazoh alaa qoodimish shalih merupakan anjuran untuk menjaga hal-hal yan esensial, ideologis dan teologis, sedangkan di bagian kedua yaitu al-akhdz bil jadidil ashlah merujuk pada hal-hal fisik dan non-ideologis seperti infrastrukur. Namun, menurut beliau, demi menjawab tantangan kontemporer adagium tersebut harus diterjemahkan secara lebih komprehensif. Bagian mengambil tradisi baru yang lebih baik sudah seyogyanya mencakup pola pikir dan ideologi yang terus berkembang, demi menghindarkan santri menjadi pribadi yang takutan dan gamang dalam mengambil pemikiran baru.

“Mayoritas pesantren fokus pada aspek tafaqquh fiddin, hal tersebut merupakan pondasi tetapi kualitasnya juga sangat bergantung pada perkembangan zaman, keilmuan dan pola pikir. Pendidikan pesantren tidak selamanya harus terpaku pada literatur lama, dan harus disesuaikan dengan kebutuhan zaman saat ini,” jelasnya panjang lebar.

Secara kurikulum pendidikan, santri dibagi menjadi dua tahap pendidikan, yaitu level penanaman dasar ilmu keagamaan dan pengembangan karakter yang mencakup level ibtidaiyah, tsanawiyah dan aliyah, yang mana indikator kemampuannya dapat dinilai melalui kemampuan membaca Al-Quran, pelaksanaan ritual dan ibadah keagamaan, penerapan akhlak sosial, kemampuan membaca kitab kuning dan kapabilitas terhadap skill tertentu seperti bahasa, teknologi, seni, olahraga, dan lain-lain.

Sedangkan yang kedua yaitu pengembangan ilmu yang telah dimiliki beserta penerapannya di masyarakat, yang mencakup level Ma’had Aly, perguruan tinggi, sekolah tinggi atau universitas. Dalam level ini, santri dituntut untuk memiliki kemampuan akademik dan wawasan yang luas dengan tujuan social problem solving. Lalu beliau juga memperkenalkan istilah ma’na wa maghza, suatu metode tafsir yang tidak hanya melihat pada makna tekstual saja, tetapi juga makna historis, makna linguistik dan relevansi makna tersebut di masa sekarang.

“Metode ini sebagai dasar pemahaman santri bahwa teks-teks yang ada tidak hanya dipahami secara tekstual tetapi juga kontekstual,” ujarnya.

Kurikulum pendidikan pesantren sudah sejak lama menjadi dasar keilmuan santri dalam menjawab berbagai tantangan perkembangan zaman. Maka hal tersebut harus secara terus-menerus dikembangkan dan disesuaikan agar santri dapat bersikap luwes dan open minded, sehingga menjadi agen terdepan moderasi Islam.

Selain narasumber diatas, forum Muktamar Pemikiran Santri Nusantara di Pesantren Krapyak yang berlangsung pada kamis, acara tersebut juga menghadirkan Dr. Syaikh Salim Alwan Al-Husainy (Darul Fatwa Australia), KH Afifudin Muhajir (Mahad Aly Ibrahimy/Majlis Masyayikh Asisoasi Ma’had Aly Indonesia), Dr.KH. Malik Madani (Majelis Masyayikh PD Pontren), KH. Husain Muhammad (Majelis Masyayikh PD Pontren), Prof. Dr. Amin Abdullah, MA, Dra. Hj. Badriyah Fayumi (Mahasina Institut), dan Nyai Hj . Hindun Anisah.

Acara berlangsung secara meriah diikuti oleh peserta muktamar, seluruh entitas santri Krapyak dan masyarakat luas. sehari sebelumnya, pada rabu (10/10), berlangsung kirab santri dan pembukaan seluruh rangkaian acara secara resmi dibuka oleh Menteri Agama RI, H. Lukman Hakim Saifuddin, dilanjutkan dengan malam kebudayaan di panggung krapyak. Di waktu yang bersamaan, dilangsungkan pula Silaturrahim Nasional (Silatnas) Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI) dan Temu Mahasantri Ma’had Aly Nusantara yang menghadirkan pengurus AMALI, mudir dan delegasi seluruh ma’had aly se-Indonesia dimana Pesatren Krapyak mendapat kehormatan menjadi tuan rumah (Rosfalianti A/Emy/tim reportase krapyak.org)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About humaid