Prof. Marrik Bellen: Contoh Moderasi Islam di Indonesia, Harus Disuarakan ke Masyarakat Internasional

www.krapyak.org_ Muktamar Pemikiran Santri Nusantara dilaksanakan di Krapyak pada kamis lalu , (11/10) menghadirkan beberapa tema diskusi di 3 lokasi. Special panel dengan narasumber dari dalam dan luar negeri. Dengan tajuk “Reinventing Subculture of Pesantren and Islamic Moderation”, sesi ini mendiskusikan bagaimana pesantren sebagai suatu subkultur pendidikan menjadi kekuatan dan inspirasi pengembangan karakter beragama yang moderat dimana Prof. Marrik Bellen sebagai salah satu narasumbernya Bersama Prof. Sahiron, KH. Amal Fathullah Zarkasyi dan KH. Marzuki Wahid sebagai moderator. Prof Marrik Bellen adalah akademisi Leiden University, dan representatif Leiden University di Jakarta. Beliau juga merupakan direktur KITLV cabang Indonesia, salah satu perpustakaan dengan koleksi literatur mengenai Indonesia yang terlengkap di dunia.

“Dalam konteks moderasi beragama, terutama Islam, kita tentu tidak dapat menihilkan persepsi dari pihak Barat. Ungkap Bellen.

Berdasarkan penelitiannya berjudul “Western Perception of Islam”, Prof. Marrik Bellen menjelaskan persepsi yang berkembang di dunia barat tentang Islam, yaitu masih banyak orang awam yang mengasosiasikan Islam dengan hal-hal negatif seperti terorisme dan radikalisme. Ia menjelaskan beberapa poin yang menjadi fenomena yang membentuk persepsi tentang Islam di dunia barat. Di antaranya adalah kajian para orientalis dulu yang sudah bias karena diawali oleh persepsi buruk mengenai dunia timur yang menurut mereka tidak dapat berdiri sendiri.
“Hal tersebut mendukung persepsi negatif karena membentu asosiasi yang buruk pula. Sampai kini ada istilah negatif Islam fundamental, yang tentu tidak representatif karena terminologi fundamentalisme tersebut awalnya mengacu pada agama katolik,” jelasnya.


Menurutnya, persepsi itu pun tumbuh kuat dan tumbuh subur oleh framing media. Media berperan besar dalam membentuk asosiasi yang ditelan mentah-mentah oleh pihak barat. Beliau menyatakan tidak semua orang barat itu pintar dan suka membaca, dengan menganalogikan di Indonesia ada yang membaca Kompas dan ada yang membaca Pos Kota yang tentu akan mennghasilkan perspektif dan pemahamannya berbeda. Lalu bagaimana dengan Islam di Indonesia? Beliau mengatakan bahwa sebagian besar orang Eropa dan Amerika tidak menyadari bahwa Islam tidak hanya bercorak seperti di Timur Tengah saja, tetapi juga banyak corak Islam lainnya terutama di wilayah Indonesia dan Asia. Hal itu menjadi suatu tantangan bagi pejuang moderasi beragama di Indonesia dalam mengemukakan wacananya. Jika kita ingin mengkontruksikan Islam yang moderat di Indonesia, keberhasilannya juga ditentukan dari seberapa mampu wacana itu dikemukakan di luar Indonesia

“Hal yang paling susah diubah adalah persepsi, maka hal yang perlu dilakukan adalah memberi informasi yang sebenarnya tentang islam, dan jangan sampai kelompok kecil yang radikal menjadi representasi islam itu sendiri,” jelasnya.

Selain narasumber diatas, forum Muktamar Pemikiran Santri Nusantara di Pesantren Krapyak yang berlangsung pada kamis, acara tersebut juga menghadirkan Dr. Syaikh Salim Alwan Al-Husainy (Darul Fatwa Australia), KH Afifudin Muhajir (Mahad Aly Ibrahimy/Majlis Masyayikh Asisoasi Ma’had Aly Indonesia), Dr.KH. Malik Madani (Majelis Masyayikh PD Pontren), KH. Husain Muhammad (Majelis Masyayikh PD Pontren), Prof. Dr. Amin Abdullah, MA, Dra. Hj. Badriyah Fayumi (Mahasina Institut), dan Nyai Hj . Hindun Anisah.

Acara berlangsung secara meriah diikuti oleh peserta muktamar, seluruh entitas santri Krapyak dan masyarakat luas. sehari sebelumnya, pada rabu (10/10), berlangsung kirab santri dan pembukaan seluruh rangkaian acara secara resmi dibuka oleh Menteri Agama RI, H. Lukman Hakim Saifuddin, dilanjutkan dengan malam kebudayaan di panggung krapyak. Di waktu yang bersamaan, dilangsungkan pula Silaturrahim Nasional (Silatnas) Asosiasi Ma’had Aly Indonesia (AMALI) dan Temu Mahasantri Ma’had Aly Nusantara yang menghadirkan pengurus AMALI, mudir dan delegasi seluruh ma’had aly se-Indonesia dimana Pesatren Krapyak mendapat kehormatan menjadi tuan rumah (Rosfalianti A/Emy/tim reportase krapyak.org)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About humaid