Nyai Hj Badriyah Fayumi: Santri Harus Siap Menjadi Warga Dunia

www.krapyak.org_Para santri saat ini sedang berada dalam dunia yang bergerak dan berubah sangat cepat. Siapa yang tidak mau berubah, dia terancam punah. Namun pada saat yang sama, entitas apapun tidak bisa eksis dan berpengaruh dalam proses perubahan, apabila tidak memiliki karakter dan jati diri yang kuat. Demikian disampaikan oleh Dra. Hj. Badriyah Fayumi, Lc. MA, salah satu narasumber dalam acara Spesial Panel Revitalizing Academic of Pesantren and Bathsul Masail yang dilasanakan di Aula Madrasah Aliyah Pondok Pesantren. Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta, Kamis Pagi(11/10/2018).

Seminar Revitalizing Academic of Pesantren and Bathsul Masail ini merupakan salah satu rangkaian acara Muktamar Pemikiran Santri Nusantara yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta. Kegiatan tersebut diisi oleh beberapa ulama Indonesia dan manca Negara diantaranya K.H Afifudin Muhajir(Mahad Aly Ibrahimy), Dr.KH. Malik Madani(Majelis Masyayikh PD Pontren), dan Dr. Syaikh Salim Alwan Al-Husainy(Darul Fatwa Australia).

Hj. Badriyah menjelaskan, pesantren sebagai lembaga pendidikan islam yang tertua di Indonesia terbukti mampu bertahan dan berpengaruh dalam kehidupan keagamaan, kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan selama berabad abad, meski ada pasang surut dinamikanya. Ini membuktikan bahwa pesantren mampu menjadi wadah yang tepat untuk mendidik santri yang mendunia.

“Santri harus mampu menjadi warga dunia yang memiliki jati diri muslim Indonesia yang berkearifan nusantara. Untuk mencapai tujuan itu santri perlu membekali diri dengan wawasan keislaman dan kebangsaan yang memadai,” tegasnya.

“Ada karakter pesantren yang mengakar kuat di indonesia yang telah mengalami proses dialektika bangsa dan masayarakat sejak jaman dahulu, yaitu moderat, toleran, tasamuh, tawassuth, cinta damai, menghargai kearifan lokal, tidak bersitegang dengan budaya setempat. Hal ini perlu terus dijaga dan dilestarikan,” urai beliau dalam wawancara dengan tim media.

“Selain itu, santri juga wajib memiliki alat untuk bisa menjadi warga dunia. Alat itu adalah pengetahuan tentang apa yang terjadi di dunia dan bahasa yang bisa menghubungkan kita dengan warga dunia lain,” papar pengasuh Pondok Pesantren Mahasina ini.

Untuk menunjang tujuan ini, santri juga harus memiliki ketrampilan khusus atau praktisi dalam suatu bidang. Sehingga nantinya bisa menghasilkan karya, yang bisa diapresiasi masyarakat dunia.”Oleh karena itu, para santri perlu untuk mempelajari tafaqquh fiddin secara matang, belajar bahasa asing, dan memiliki karya,” pungkasnya.

“Yang paling penting adalah bagaimana menjadikan tradisi pesantren dan budaya keilmuan pesantren ini menjadi sesuatu yg bisa disampaikan keluar dan mempengaruhi masyarakat luas,” tandas beliau.

Selain menghadirkan Nyai Hj. Badriyah Fayumi sebagai narasumber Muktamar Pemikiran Santri Nusantara di Pesantren Krapyak yang berlangsung pada kamis, acara tersebut juga menghadirkan Syaikh Bilal Mahmud Afifi Ghanim (Universitas Azhar Mesir), Dr. Syaikh Salim Alwan Al-Husainy (Darul Fatwa Australia), Marrik Ballen (Direktur Ofisial Universitas Leiden), KH Afifudin Muhajir (Mahad Aly Ibrahimy/Majlis Masyayikh Asisoasi Ma’had Aly Indonesia), Dr.KH. Malik Madani (Majelis Masyayikh PD Pontren), KH. Husain Muhammad (Majelis Masyayikh PD Pontren), Prof. Dr. Amin Abdullah, MA, Prof. Dr. KH. Amal Fathullah, Dr. Shahiron Syam,suddin, Dra. Hj. Badriyah Fayumi (Mahasina Institut), dan Nyai Hj . Hindun Anisah.
(Zulfa A)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About humaid