Naskah Sambutan DR. KH. Hilmy Muhammad, M.A dalam Pembukaan Muktamar Pemikiran Santri Nusantara 2018

SAMBUTAN TUAN RUMAH
Muktamar Pemikiran Santri Nusantara
di PP. al-Munawwir dan PP. Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta
10 Oktober 2018 M./30 Muharram 1440 H.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله الذي أنعم علينا بنعمة الإيمان والإسلام، وهدانا بالقرآن، وأرسل إلينا محمدا رحمة للعالَم، ومنّ علينا بإندونيسيا سُكّانا ووطنا، أمة وبلدا.والصلاة والسلام على سيدنا ومولانا محمد خاتم الأنبياء والمرسلين وعلى آله وصحابته ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين. رب اشرح لي صدري ويسر لي أمري واحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي، آمين، أما بعد.

Yang terhormat Menteri Agama RI, Bapak Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin,
Yang terhormat Prof. Phil. Kamaruddin Amin, Dirjen Pendidikan Islam, beserta seluruh jajaran Kementerian Agama;
Yang terhormat Bapak Gubernur DI Yogyakarta, Bapak Komandan Korem 072 Pamungkas dan Bapak Kapolda atau pejabat yang mewakili;
Yang terhormat Bapak Drs. H. Lutfi Hamid, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY;
Yang kami hormati Simbah Ny. Zainal Abidin Munawwir (Ibu Ida Fathimah), Bapak KH. Atabik Ali Maksum, Bapak KH. Muhammad Najib Abdul Qodir Munawwir beserta segenap jajaran Pengasuh Pondok Pesantren al-Munawwir dan Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta;
Yang kami muliakan para kiai, pengasuh pondok pesantren dan kalangan akademisi yang namanya tidak dapat kami sebut satu persatu, segenap tamu undangan, hadirin wal-hadirat yang berbahagia,

Pertama-tama kami panjatkan syukur al-hamdulillah yang tak terhingga atas banyaknya anugerah Allah Ta’ala yang telah diberikan kepada kita. Semoga kita semua dapat menggunakannya dengan sebaik-baiknya, amin.
Yang kedua, kami sampaikan salam selamat datang, marhaban ahlan wa sahlan, kepada segenap para tamu, para kiai, terlebih kepada Bapak Menteri Agama RI. Semoga kehadiran panjenengan semua di pesantren kami dapat memberikan berkah kepada kami, segenap keluarga, para santri dan warga Dusun Krapyak Desa Panggungharjo khususnya, dan masyarakat D.I. Yogyakarta pada umumnya, amin ya mujibas sa’ilin.

Bapak Menteri dan hadlirin wal-hadlirat rahimakumullah,

Selaku tuan rumah, kami menghaturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pemerintah, dalam hal ini Kementerian Agama, yang telah memberikan kepercayaan kepada kami menjadi tuan rumah perhelatan tingkat nasional dalam rangka Hari Santri Nasioanal bertajuk “Muktamar Pemikiran Santri Nusantara”. Sebelumnya, selaku tuan rumah, terlebih dahulu kami akan memperkenalkan diri kepada Bapak Menteri dan hadirin wal-hadlirat sekalian, bahwa yang ditunjuk secara resmi sebagai tuan rumah adalah dua institusi, yaitu: pertama, Pondok Pesantren al-Munawwir, dan kedua, Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta. (Ini seperti Korea-Jepang yang ditunjuk oleh FIFA untuk menjadi host Piala Dunia Tahun 2002…) Kedua pesantren ini memiliki rumpun dan akar yang sama, karena keduanya berasal dari leluhur yang sama, yaitu Allahuyarham Simbah KH. Muhammad Munawwir bin Abdullah Rasyad. Dan meskipun dua institusi, tapi alhamdulillah, kerukunan kami terjaga sedemikian erat dan kuat, tanpa ada persaingan sengit di antara keduanya. Kuncinya adalah menjaga kerukunan keluarga. Dan berkahnya, setiap awal tahun ajaran, semua komplek dan asrama di pondok-pondok kami seluruhnya full, bahkan menolak santri yang daftar terlambat. Alhamdulillah.

Pesantren ini didirikan oleh Allahuyarham Simbah KH. Muhammad Munawwir pada tahun 1911. Beliau mengambil takhassus pengajaran al-Qur’an, baik secara bin nadzri, maupun secara bil hifdzi, qira’ah masyhurah maupun qira’ah sab’. Selama lebih kurang 30 tahun beliau membina pesantren ini, banyak alumni yang dihasilkan dan tersebar di seantero Nusantara, antara lain Allahuyarham KH. Arwani Amin Kudus, KH. Umar Kempek Cirebon, KH. Umar Solo, KH. Muntaha Wonosobo dan masih banyak lagi.

Dalam ranah pergerakan, beliau memang tidak terlihat seperti teman-teman mondoknya, yaitu KH. Hasyim Asy’ari maupun KH. Ahmad Dahlan, yang ikut hiruk pikuk dalam perjuangan kebangsaan. Hal ini wallahu a’lam, barangkali karena beliau adalah abdi dalem dan ulama Kraton Ngayogyokarto, yang tentu saja pergerakannya harus senantiasa menyesuaikan diri dengan Kanjeng Sultan Hamengku Buwono. Namun keterlibatan beliau dalam perjuangan melawan penjajah, maupun pergerakan Nahdlatul Ulama tidak dapat dipungkiri dengan melihat banyaknya tamu yang datang ke Krapyak, mulai dari KH. Hasyim Asy’ari, KH. R. Asnawi Kudus, KH. Dimyati Tremas, KH. Ma’shum Lasem, KH. Abbas Buntet, KH. Dalhar Watucongol dan lain-lain. Demikian halnya, beliau wafat tahun 1942, atau tiga tahun sebelum Hari Kemerdekaan RI.

Bapak Menteri Agama, para kiai dan tamu undangan sekalian,

Muktamar ini tepat sekali dilangsungkan di tempat ini, karena sejarah pesantren ini dipenuhi oleh para aktifis pergerakan sosial kemasyarakatan. Putra-putri al-marhum KH. Muhammad Munawwir tercatat ikut berperan mengisi dan mewarnai perjuangan kemerdekaan negeri ini. Allahuyarham KH. Abdullah Affandi Munawwir selaku putra tertua beliau, tercatat pernah menjadi anggota Konstituante (atau MPR atau sekarang ini disebut DPD-lah). Adik beliau, Allahuyarham KH. Abdul Qadir Munawwir, di samping sebagai yang paling bertanggung jawab melanjutkan pengajian al-Qur’an di pesantren ini, juga terlibat aktif dalam pergerakan awal Nahdlatul Ulama DIY. Demikian halnya menantu beliau, Allahuyarham Simbah KH. Ali Maksum, yang dikenal aktif dalam sosial kemasyarakatan di Nahdlatul Ulama, yang bahkan kemudian mendaulat beliau sebagai Rais Am, juga aktif dalam peran-peran kenegaraan, karena beliau pernah menjadi anggota Konstituante, anggota Penerjemah Mushaf al-Qur’an dan lain-lain.

Demikian juga sesuai dengan tema, Muktamar ini juga tepat sekali dilangsungkan di sini karena banyaknya kiai intelek yang bertabur karya hebat berasal dari para kiai pesantren ini. Allahuyarham KH. Ali Maksum sendiri memiliki banyak karya yang luar biasa, di antaranya, beliau adalah pencipta metode tashrifan gaya baru khas Krapyak yaitu: “nashara-yanshuru-unshur”, bukan “nashara-yanshuru-nashran”. Beliau juga penyusun karya monumental buku Hujjah ahlis sunnah wal jama’ah. Adik dan murid beliau, Allahuyarham KH. Zainal Abidin Munawwir juga memiliki karya-karya hebat, yaitu Wadla’iful-Muta’allimin (karya tentang tata cara belajar dan menuntut ilmu, semacam Ta’limul-Muta’allim), al-Muqtathafat (kumpulan hadits-hadits Jawami’ al-Kalim), al-Furuq (kitab membahas tentang perbedaan-perbedaan dua hal yang berdekatan atau berlawanan), dan sebagainya. Karya besar kiai Krapyak yang lain adalah Kamus al-Munawwir yang disusun oleh Allahuyarham KH. Ahmad Warson Munawwir dan Kamus al-‘Ashri yang disusun oleh KH. Atabik Ali Maksum. Kamus-kamus ini menjadi karya masterpiece yang menyesaki hampir setiap rak buku pelajar muslim di mana pun mereka berada.

Dan sekarang, pesantren kami berkembang sedemikian rupa, seluruhnya berjumlah lebih dari 4000 santri, dengan berbagai lembaga pendidikan tersedia di sini, baik yang formal, maupun non formal: MTs, MA, SMP, SMA, SMK, baik yang takhassus, maupun yang mu’adalah, mulai dari Diniyah Salafiyah hingga Ma’had Ali, tahfidz al-Qur’an qira’ah masyhurah dan qira’ah sab’ semuanya ada di sini. Bahkan yang khusus melayani kejadugan dan kanuragan pun ada di sini, hehe.

Di samping kajian-kajian keagamaan, santri-santri juga kami ajari berbagai ketrampilan, bermacam cabang seni dan olah raga, guna mengembangkan minat, bakat dan prestasi mereka. Dan alhamdulillah, setiap ajang POSPEDA, MTQ, MQK dan AKSIOMA, santri-santri kami mampu tampil dominan di event-event tersebut, di tingkat kabupaten, propinsi maupun tingkat nasional. Kami mohon doa, semoga saat keluar dari pesantren ini anak-anak kami mampu menjawab tantangan zaman, menghadapi masa depan dengan penuh keberanian dan percaya diri, dengan tetap dilandasi oleh sikap jujur, bertanggung jawab, sederhana, rendah hati dan toleran kepada sesama.

Dan hanya dengan modal semangat perjuangan kebangsaan dan spirit keilmuan inilah yang menyebabkan kami memberanikan diri menerima amanat sebagai tuan rumah Muktamar Pemikiran Santri Nusantara. Dan kami yakin, potensi seperti ini juga buanyak sekali bisa ditemui di pesantren-pesantren di seantero Nusantara ini, yang mewajibkan kita semua untuk menggali dan saling mempelajari pusaka peninggalan para ulama leluhur bangsa ini. Sungguh kami menyambut baik diselenggarakannya muktamar santri ini, di tempat yang dulu juga digunakan untuk Muktamar NU ke-28 Tahun 1989.

Sebagai tuan rumah, kami sudah menyiapkan ruang-ruang kelas untuk tempat-tempat pertemuan, stand pameran, konsumsi dan akomodasi semampu kami. Tentu apabila ada kekurangan di sana-sini, setulusnya kami mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Terakhir, semoga muktamar ini membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi ummat Islam dan bangsa Indonesia, sekaligus memberikan pencerahan bagi kita semua kaum santri, bahwa keharusan kita ke depan adalah membawakan Islam yang senantiasa ramah, siap berdampingan dengan warga masyarakat di belahan dunia manapun, dan berprestasi dalam bidang apapun yang ditekuninya.

Demikian, kurang lebihnya mohon maaf, dan saya akhiri,

والله الموفق والهادي إلى سواء السبيل
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About humaid