Pondok Krapyak Gelar Diskusi “Pesantren Ramah Difabel”

Di era sekarang ini, semakin banyak kita jumpai orang-orang yang justru menutup mata dan bersikap apatis terhadap lingkungan di sekitarnya. Mereka seolah tidak menyadari bahwa ada orang lain yang memiliki kondisi berbeda dengan dirinya. Orang-orang ini yaitu para penyandang disabilitas. Terhadap kelompok ini, sebagian masyarakat masih memandangnya menggunakan stigma negatif yang menganggap mereka diberi kondisi kekurangan dibandingkan orang-orang pada umumnya.

Melihat kondisi yang demikian, Pondok Pesantren Ali Maksum, Komplek Gedung Putih, Krapyak, Yogyakarta berinisiatif untuk mengadakan suatu diskusi bersama para santri dan beberapa dari kalangan mahasiswa. Diskusi yang diadakan di Aula Komplek N Yayasan Ali Maksum (Jumat, 16/0218) ini, turut mengahdirkan dua orang narasumber, yaitu Dr. Bahrul Fuad, MA. dan Dr. Akhmad Sholeh, S. Ag, M.SI. Sekilas, membaca nama keduanya pastinya kita berpikiran bahwa mereka adalah kalangan akademisi dengan kondisi normal sebagaimana kebanyakan orang pada umumnya. Namun jangan salah, kedua narasumber ini juga merupakan penyandang disabilitas. Hal ini tentunya sangat istimewa karena tak banyak para penyandang disabilitas yang mampu meraih karir akademik segemilang kedua narasumber ini.

Pada kesempatan tersebut, juga dihadiri oleh salah satu pengasuh Pondok Pesantren Ali Maksum, yakni Dr. KH. Hilmi Muhammad, MA. yang memberikan sambutan sebagai pembuka acara diskusi. Dalam sambutannya, beliau menyinggung masalah disabilitas yang seringkali dikesampingkan dan kurang mendapat perhatian. Menurut beliau, seharusnya para penyandang disabilitas didorong agar lebih berkembang dan potensi dalam diri mereka tidak terkubur begitu saja. Sebab, pada dasarnya manusia itu dimuliakan oleh Allah SWT. dan memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan ciptaan-Nya yang lain. Selain itu, Dr. KH. Hilmi Muhammad, MA. juga menyampaikan bahwa berdasarkan Munas NU, perhatian dan penghormatan bagi penyandang disabilitas bukanlah semata kewajiban pemerintah, namun merupakan kewajiban individual. Agar hal tersebut bisa terwujud, salah satu hal yang harus dihilangkan yakni stigma negatif terhadap penyandang disabilitas yang seringkali menghubungkannya dengan perkara tahayul.

Memasuki sesi berikutnya, yaitu penyampaian materi yang diawali oleh Dr. Akhmad Sholeh, S. Ag., M.SI. Pada kesempatan ini, beliau menyampaikan masalah-masalah umum di masyarakat yang dihadapi penyandang disabilitas termasuk di perguruan tinggi. Misalnya saja dari segi fisik bangunan yang belum ramah bagi para penyandang disabilitas seperti tidak adanya akses untuk pemakai kursi roda dan ukuran bangunan yang tidak memadai. Terkait pondok pesantren, Dr. Akhmad Sholeh menyampaikan, agar pondok pesantren ramah bagi para penyandang disabilitas, maka ada beberapa faktor yang harus terpenuhi, antara lain faktor kebijakan, peraturan, kurikulum, pengajaran, unit pelayanan, program, dan sarana pra sarana. Faktor-faktor ini merupakan hal yang sangat krusial dan saling menunjang satu sama lain. Setidaknya ketujuh faktor inilah yang harus terpenuhi agar pondok pesantren bisa dikatakan ramah bagi penyandang disabilitas.

Untuk sesi terakhir diskusi ini, materi disampaikan oleh Dr. Bahrul Fuad, MA atau yang akrab disapa Cak Fu. Beliau membuka sesi ini dengan melontarkan pertanyaan kepada audien tentang apa yang terbersit di benak mereka ketika pertama kali melihat penyandang disabilitas. Ternyata, kebanyakan dari mereka memiliki jawaban yang sama. Yang mereka rasakan adalah perasaan kasihan, terbebani, dan hal negatif lainnya. Namun, setelah mengetahui seperrti apa latar belakang para narasumber ini peraaan negatif tersebut berganti menjadi rasa kekaguman dan terinspirasi.
Cak Fu menyampaikan bahwa seseorang dikatakan sebagai difabel berdasarkan pada tiga hal, yaitu keterbatasan fisik seseorang, lingkungan yang tidak ramah, dan sikap masyarakat. Seseorang yang memiliki keterbatasan fisik, namun didukung oleh lingkungan sekitarnya yang membuatnya menjadi mampu untuk mengerjakan apapun sendiri berarti ia sebenarnya tidak dikategorikan difabel. Beliau mencontohkan pengalaman pribadinya ketika berada di Belanda. Di negara tersebut beliau mampu untuk melakukan perjalan jauh sendiri tanpa harus merepotkan orang lain dengan menggunakan transportasi umum. Beliau tinggal menghubungi petugas yang akan siap membantunya di stasiun keberangkatan dan stasiun tujuannya. Begitu juga ketika beliau hendak menyeberang di jalan raya, para pengemudi kendaraan akan berhenti atas kesadaran pribadinya dan mempersilahkan Cak Fu untuk menyeberang terlebih dahulu. Hal ini membuat beliau tidak masuk dalam kategori diabel ketika berada di negeri kincir angintersebut. Namun, kondisi berbalik ketika beliau kembali lagi ke Indonesia.

Cak Fu, pada kesempatan tersebut menjelaskan tentang pentingnya lingkungan yang inklusif. Lingkungan inklusif ini tidak hanya sekedar dari bangunan fisik saja namun, yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat di sekitar kelompok penyandang difabel ini terdidik untuk berpikiran inklusif. Beliau mencontohkan ketika beliau masih mengenyam pendidikan di Pesantren Tambak Beras, Jombang di mana bangunannya secara fisik belum termasuk bangunan yang ramah difabel. Namun, sikap masyarakat pesantren, baik santri maupun ustadz telah menunjukkan sikap yang inklusif. Salah satunya terlihat dari teman-teman beliau. Bahkan, ada salah satu temannya yang dengan suka rela selalu menggandeng beliau ketika hendak berangkat ataupun pulang dari pondok menuju ke madrasah. Begitu pula dengan ustadznya, apabila sang ustadz mengetahui bahwa Cak Fu hendak ikut dalam pembelajaran yang akan disampaikannya, maka ustadz tersebut akan memilih tempat yang sekiranya bisa dengan mudah dijangkau oleh beliau.

Pada diskusi ini, Cak Fu juga menekankan bahwa penyandang disabilitas penting untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi. Mengapa? Karena pendidikan yang rendah akan semakin membuka peluang pada kemiskinan. Hal ini karena dengan pendidikan yang rendah, tentunya pemasukan seseorang pun akan rendah juga. Jika pemasukan rendah, ada kemungkinan orang itu akan lebih rentan terhadap penyakit dan gizi yang rendah pula. Keadaan yang seperti ini akan semakin meningkatkan potensi seseorang menjadi penyandang disabilitas. Beliau juga menggaris bawahi satu pernyataannya, “Anda tidak akan bisa menghapus kemiskinan jika tidak memberi akses pada penyandang disabilitas”.
Diskusi yang diselenggarakan oleh divisi PSDS (Pengembangan Sumber Daya Santri) tersebut akhirnya diakhiri dengan beberapa pertanyaan dari para audien untuk memuaskan rasa penasaran mereka. Dengan adanya kegiatan ini, diharapkan kepekaan dan kepedulian terhadap para penyandang difabilitas akan semakin tertanam di masyarakat, khususnya lingkungan pesantren. (Inayah/Adam)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About humaid