Pidato Dr. KH. Hilmy Muhammad, MA pada Upacara Peringatan Hari Guru Nasional

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

إن الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره. ونعوذ به من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا.
من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له.
ونشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، ونشهد أن محمدا عبده ورسوله لا نبي بعده.
اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا ومولانا محمد وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه. وبعد،

Yang mulia Bapak-Bapak Kiai dan Ibu-Ibu Nyai,
Yang terhormat segenap pimpinan dan dewan guru Madrasah Aliyah Ali Maksum Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta,
Anak-anak sekalian yang saya banggakan,

Alhamdulillahi rabbil-‘alamin, hari ini, tanggal 25 November, kita berkumpul bersama melaksanakan upacara di halaman Masjid Al-Munawwir dalam memperingati Hari Guru Nasional. Seperti kita saksikan bersama, upacara kali ini sangat istimewa karena semua petugas adalah segenap guru, yang dengan sigap, siaga, dan sungguh-sungguh, melaksanakan upacara sebaik-baiknya. Ya, mereka ingin membuktikan pada kita semua, bahwa para guru pun bisa melaksakan ini semua dengan baik dan kompak. Dan, memang segala sesuatu bila disiapkan dan dijalani dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan hal yang luar biasa.

Segenap dewan guru yang saya hormati,

Saya hanya ingin sedikit mengingatkan diri saya dan barangkali bermanfaat buat panjenengan semua, bahwa peringatan pada hari ini membawa kita kepada filosofi Jawa yang penting terkait guru, yaitu orang yang bisa digugu dan ditiru, bukan orang yang diguyu dan ditinggal turu.

Guru digugu, atau omongannya dipercaya, karena guru memiliki integritas. Omongannya tidak sekadar keluar dari mulut, tapi dari hati. Tidak pula sekadar omong, tapi juga melaksanakan apa yang diomongkan. Agar digugu, guru harus memiliki wibawa, yang itu hanya bisa diperoleh apabila, satu, ia berisi dan bermutu, atau memiliki kemampuan dan pengetahuan, serta menyiapkan materi pelajaran dengan serius, sebaik-baiknya; dan kedua, ia mampu menyampaikan materi pelajarannya dengan cara yang mudah dipahami dan dilakukan sebaik-baiknya.

Guru juga adalah figur panutan yang patut ditiru, dalam arti diteladani dan diidolakan. Agar dapat dijadikan idola dan panutan, guru haruslah mampu menginspirasi. Agar bisa menginspirasi murid-murid, guru harus dekat dan peduli, serta memperlakukan mereka selayaknya teman atau bahkan anak sendiri. Guru juga harus kreatif dan inovatif, yang menjadikannya berbeda dengan yang lain. Dari situ, ia akan menjadi motivator bagi murid-muridnya.

Kepada anak-anakku semuanya,

Penting saya ingatkan, mari kita jadikan peringatan hari guru ini sebagai refleksi bagaimana perilaku dan perlakuan kita terhadap guru. Sudah benarkah cara kita berbicara, bertanya, dan menyapa dengan bapak-ibu guru? Sudah patutkah penghormatan kita terhadap mereka yang merupakan para pahlawan tanpa tanda jasa? Sudahkah kita membalas kebaikan, atau minimal mendoakan mereka, sebagaimana kita mendoakan kedua orangtua kita?

Guru bahkan lebih dari orangtua kita. Raja Iskandar atau Alexander The Great pernah ditanya, “Mengapa perlakuan Anda terhadap guru melebihi perlakuan Anda terhadap orangtua Anda?” Beliau menjawab, “Orangtua sekadar menjadi sebab keberadaanku di dunia yang fana, sedang guru menjadi sebab kebahagiaanku di akhirat yang baka.” Benarlah Raja Iskandar, dan benar pula Syawqi, sang penyair, yang berkata:

قم للمعلِّم وفِّهِ التبجيلا # كاد المعلم أن يكون رسولا
أعلِمْتَ أشرفَ أو أجلَّ من الذي # يبني ويُنْشئ أنفُسا وعُقولا

Perlakukan guru dan berikan penghormatan terbaik kepadanya, sebab kedudukan guru itu nyaris laksana nabi, utusan Allah.
Tahukan Anda, adakah orang yang kedudukannya lebih mulia dan lebih agung daripada guru yang membangun jiwa dan akal-akal? Tentu tidak ada.

Mari kita kembali kepada jati diri kita selaku santri yang menjunjung tinggi kehormatan guru sebagai guru dan orangtua kita, sebaliknya, senantiasa menyadari bahwa diri sebagai murid. Bila kemudian ada guru yang saking akrabnya lantas menganggap kita sebagai temannya, maka itu adalah hak beliau. Namun demikian, sebagai murid, kita harus tetap hormat dan menganggapnya sebagai guru dan orangtua kita. Adab-adab yang sudah kita pelajari dari kitab Ta’limul-Muta’allim bukan sekadar menjadi pengetahuan saja, melainkan harus dipraktikkan agar berkah, berguna, dan menjadi pedoman kita.

Bapak-bapak dan ibu-ibu guru serta anak-anakku sekalian,

Momentum hari guru ini sungguh tepat bila kita jadikan sebagai penguat tekad dan komitmen kita untuk memperbaiki diri kita masing-masing sebagai bagian dari civitas akademika Madrasah Aliyah. Mari kita saling menghormati keberadaan kita sebagai bagian dari rukun pembelajaran, yang sama-sama menyadari pentingnya proses belajar-mengajar, dengan cara hadir, aktif, dan berprestasi di ranah masing-masing.

Demikian sambutan singkat ini disampaikan, semoga dapat dipahami dan dimengerti dengan baik. Terima kasih atas partisipasi dan kerja keras panitia, pimpinan Madrasah, dan anak-anaku semuanya. Mohon maaf atas segala kekurangan dan kekhilafan. Saya akhiri,

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About humaid