SESEPUH DAN KIAI KRAPYAK WAFAT


Salah satu Sesepuh dan Kyai Pondok Pesantren Krapyak, kembali dipanggil oleh Sang Khalik. Simbah KH. Zainal Abidin Munawwir tutup usia pada sabtu malam, pukul 18.30 (15/2/2014), di ndalem beliau. Sebelumnya, beliau sempat dirujuk ke rumah sakit karena kondisi kesehatan beliau yang semakin menurun. Seketika itu juga, keluarga dan santri tumpah-ruah berdatangan sejak kabar duka itu datang. Beliau meninggalkan seorang istri, Ny. Hj. Ida Fatimah, M.A. dan tiga putra putri; Muhammad Munawwir, Khairuzzad, dan Khumairo. Saat ini para .santri, keluarga dan kerabat nampak berkumpul di halaman pesantren. Rencananya, upacara pemakaman dilangsungkan pada Ahad (16/2/2014) pukul 14.00 di makam sorowajan
Setelah KH. Munawwir wafat (1942), kepemimpinan pesantren dipegang tiga orang, masing-masing KH. Abdullah Affandi, KH. Abdul Qadir (keduanya putra KH. Munawir) dan KH. Ali Ma’shum (menantu KH. Munawwir, putera KH. Ma’shum Lasem). Tiga serangkai inilah yang kemudian mengembangkan pesantren al-Munawwir Krapyak dengan pembagian tugas: KH. Abdullah Affandi sebagai ketua Umum, KH. Abdul Qadir penanggung jawab pengajian al-Qur’an dan KH. Ali Ma’shum penanggung jawab pengajian kitab-kitab.
KH. Zainal Abidin Munawwir merupakan salah satu Putra KH. Muhammad Munawwir al-Muqri’ bin Abdullah ar-Rosyad. Bersama-sama saudaranya yang lain, KH. Dalhar Munawwir dan KH. Ahmad Warson Munawwir, KH. Zainal Abidin yang melanjutkan estafet kepemimpinan Pesantren Krapyak hingga beliau wafat.

Sosok Kiai Langka

Mbah Zainal, demikian para santri menyapa, dikenal luas sebagai sosok yang yang tidak hanya ‘Alim dan A’mil, tetapi lebih dari itu beliau adalah sosok yang sangat istiqomah, sangat zuhud dan wira’i. dalam kesehariannya.
Tumbuh dan besar dalam lingkup pesantren, Usai ditinggal oleh Ayahandanya dalam usia baligh, beliau dididik secara khusus oleh Guru sekaligus Kakaknya, KH. Ali Maksum (suami Nyai Hj. Hasyimah Munawwir) yang saat itu merupakan Pengasuh Pesantren Krapyak bersama saudaranya yang lain. Seluruh hidupnya, di dedikasikan untuk tumbuh-kembang pesantren Krapyak. Nyantri dan Mengajar, hingga dikenal sebagai Kyi yang diakui kepakarannya dalam disiplin ilmu Fiqih dan Alim. Hebatnya, beliau menghabiskan waktu nyantrinya hanya di Pesantren Krapyak.

Banyak kenangan dan kesan tentang kepribadian Kyai karismatik ini. Beliau adalah Kyai yang sangat ketat memegang teguh fiqih Mazhab Syafi’i. Apa yang menurut beliau benar, maka belaiau tidak pernah ragu untuk melakukannya, termasuk jika harus berbeda dengan mayoritas ulama yang lain. Tak kurang pujian dan pengakuan atas keilmuan disematkan oleh Rais ‘Am Nahdhatul Ulama KH. Ali Maksum yang tak lain adalah Kakak dan Guru beliau Sendiri. “Zainal iku Kyai Ampeg; Spesial Fiqih 4 Mazhab”. Mbah Ali pun konon sering berdiskusi dengan Mbah Zainal perihal persoalan Fiqih.

Pak Ali (KH. Ali Maksum) kalau diskusi soal agama, ya dengan Pak Zainal (KH. Zainal Abdiin Munawwir). Kalau soal politik dan kenegaraan biasanya dengan Pak Warson (KH. Ahmad Warson Munawwir. Soal lain, dengan santri lainnya. Mereka itu seolah menjadi penasehat Pak Ali dalam berbagai hal” ungkap KH. Munawwir AF yang jmemang pernah mengaji dengan kedua ulama karismatik ini.

Tidak hanya ‘alim-a’mil, beliau adalah sedikit dari ulama yang produktif menulis kitab. Ada belasan karya tulis beliau, terutama dalam bidang ushul fiqih-fiqih. Namun, memang tidak sempat terpublikasikan secara luas. Hamya dikaji di kalangan santri Pondok Pesantren Krapyak saja. Salah satu karangan beliau misalnya, Kitabus Shiyam, dingajikan selama Ramadhan di Mesjid.

Beliau selain dikenal sebagai kyai Karismatik yang menyejukkan, sangat teguh memegang prinsip, Mbah Zainal adalah sosok yang sangat zuhud dan wira’i. Beliu sangat memperhatikan detail apa yang beliau makan dan gunakan. Beliau adalah sosok yang sangat sederhana dalam hal apapun. Tak jarang, santri melihat Sang Kyai membetulkan gendeng atap rumah beliau sendiri.

. KH. Zainal adalah oase ilmu dan kearifan yang tidak ada habisnya ditimba. Dan beliau kini telah berpulang. ALLAHUMMAGHFIRLAHU WARHAMHU WA’AFIHI WA’FU ANHU. (humaidiy as/disarikan dari berbagai sumber dan wawancara)

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About humaid