Tasawuf Jihadi *)

Oleh: KH. Afif Muhammad **)

Akhir-akhir ini muncul desas-desus sekelompok orang terhadap Imam Ghozaly rahimahullah dalam kaitannya dengan peran beliau saat penyerbuan kaum Salib atas kota Al Quds, sembilan ratus tahun lalu. Lantas, sembari mengutip ajaran Tasawuf secara sepotong-potong, mereka menggebyahuyah para pengamal tasawuf sebagai kelompok yang lemah kalahan, suka ayem dan ‘alergi’ jihad. Tudingan kepada kalangan tasawuf sebagai yang tidak sadar jihad ini tentu saja jauh dari kebenaran. Kenyataan sejarah menyalahkan hal tersebut. Demikian pula, upaya untuk memelintir pandangan dengan menganggap jihad menurut ajaran tasawuf adalah berbeda dengan ajaran Islam, akan selalu gagal, karena Tasawuf adalah tak terpisahkan dan berakar dari ajaran di dalam Islam itu sendiri.

Imam kita Hujjatul Islam Al Ghozaly bukan hanya menulis kitab Ihya-u Ulumiddin saja. Sebagai faqih mujtahid, beliau menulis Al Basith, al Wasith, dan al Wajiz, dalam disiplin Fiqh, yang tentu membahas mengenai jihad di dalamnya. Justru dengan Ihya, Imam Ghozaly menanamkan mental-mental yang nantinya mampu menghadapi beragam krisis di masa-masa genting sejarah Islam (Baghdad diserang Tartar, Al Quds diserbu kaum Salib). Hasilnya, Dinasti Ayyubi, melalui Syeikh Abdul Qadir al Jailani merupakan ‘anak ideologis’ Imam Ghozaly. Di Barat (Magrib dan Spanyol), dinasti Muwahhidun merupakan penjunjung ajaran Imam Ghozaly diteruskan hingga Imam Syadziliy di Mesir dengan hizib-hizib beliau dalam perang melawan orang Eropa saat itu. Dunia Islam Timur dan Barat sangat dipengaruhi pandangan-pandangan Imam Ghozali dan jelas sejarah perjuangan ummat Islam dalam jihad selalu dipenuhi dengan peran para pengamal tasawuf. Tak terkecuali di tanah air, Pangeran Diponegoro dikenal suka lelaku dan tapabrata (riyadlah), demikian pula para pejuang yang lain hampir selalu diketahui terkoneksi dengan tarekat pengamal tasawuf.

Namun, apakah garis waktu peradaban muslim dipenuhi dengan pertempuran saja? Tentu tidak. Ini karena Maqasid dan tujuan Islam menyatakan bahwa hidup manusia adalah untuk menyembah Allah dan ‘imaratul ardl, memakmurkan bumi. Karenanya, peradaban muslim sama sekali tidak mengidealkan kondisi perang terus menerus. Yang asl, yang pokok dan menjadi tujuan kehidupan adalah bukan perang, namun kondisi aman dan damai. Perang merupakan kondisi far’, cabang, non rutin, yang dijalani jika memang ketentuan Syara’ dan serangkaian pertimbangan dhahir dan bathin menghendaki.

Jihad Besar, Mengapa?

Jihad merupakan amalan berupa perlawanan terhadap musuh yang dilakukan demi meninggikan Kalimat Allah. Ini adalah pandangan Islam dan tak terkecuali perspektif tasawuf di dalamnya. Jihad dalam pandangan Islam sendiri memiliki berbagai macam bentuk, dan artikulasi. Kalaupun yang kemudian kaprah adalah jihad sebagai perjuangan fisik melawan kaum kafir, ini tidak menafikan adanya jihad dalam bentuk lain, seperti jihad dengan kata-kata, dengan tulisan, dan justru yang terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu. Di sinilah jluntrungnya; Karena Tasawuf merupakan disiplin ilmu yang terejawantah dari aspek ihsan dalam ajaran Islam dan berhubungan dengan membangun jiwa manusia, maka sudah barang pasti jihadunnafs lebih ditekankan dalam Tasawuf.

Jihad meniscayakan adanya musuh. Dalam Islam diajarkan bahwa musuh yang ‘paling memusuhi’ adalah hawa nafsu yang berupaya menghinggapi dan menguasai setiap diri manusia, apapun kedudukan dan keadaannya. Hawa nafsu selalu berupaya membelokkan manusia dari kebenaran, menjerumuskan manusia dalam kerendahan. Bila nafsu menguasai diri manusia, saat itu pula kesejatian manusia sebagai entitas yang mengusung Kalimatullah runtuh. Karena bersifat batin di dalam diri manusia, dan tidak seperti musuh yang kasat mata, serta muncul setiap saat secara laten maka perlawanan terhadap nafsu tersebut oleh Rasulullah disebut dengan sebagai jihad akbar, jihad besar. Besarnya jihad bukan karena gebyar dan heroik seperti layaknya peperangan, tapi justru karena tak kasat mata, rutin, dan terus-terusan. Perjuangan mempertahankan kesejatian kemanusian inilah yang selalu diingatkan oleh Rasulullah dalam berbagai hadis, baik dengan terma jihad (riwayat hadis kepulangan dari medan tempur, berpuasa, menuntut ilmu, berkata hak terhadap penguasa lalim, bekerja halal, kesetiaan istri di rumah, dll), maupun ribath, (riwayat hadis menunggu di antara sholat), ghanimah (riwayat hadis doa keselamatan), dan lain-lain.

Jihad, Takhally dan Tahally

Pada saat perjuangan mengekang nafsu berlangsung, seseorang mengosongkan diri dari perbuatan buruk dan perilaku hati yang rendah (takhally), kemudian mengisi dirinya dengan perbuatan mulia (tahally). Pola takhliyah dan tahliyah inilah yang lazim dikenal dalam tasawwuf dalam rangka mujahadatunnafs dan tazkiyatunnafs. Bila seseorang mendapati dirinya berperilaku kikir, maka jihad-nya adalah menekan sifat ini agar tidak mendominasi diri dan menimpanya dengan latihan-latihan (riyadlah) yang mendidikkan sifat dermawan, dan seterusnya. Inilah makna yang diajarkan oleh Rasulullah saat diminta memberi wejangan atau ditanya oleh para sahabat amal apa yang paling utama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam berbagai riwayat menjawab dengan jawaban-jawaban yang tidak seragam. Nabi diketahui menjawab shalat pada waktunya, namun kepada orang lain Nabi menyatakan jangan marah, kepada yang lain berbakti kepada orangtua. Ini semua karena melihat pribadi penanya (hal mustafti/ murid) dan memprioritaskan kepada hal yang paling bermanfaat dan urgen bagi kemajuan kualitas kepribadiannya.

Dengan pola takhally dan tahalliy dalam Tasawuf ini, ketika dihadapkan dengan perang fisik, maka urusannya menjadi lain, yaitu banyak pertimbangan matang, lahir batin. Mengapa? Jihad dalam bentuk berperang fisik merupakan salah satu amalan yang mulia dalam tujuannya, bukan dalam dirinya. Bila dibandingkan dengan berdzikir yang merupakan perbuatan mulia dalam wujud bentuk dan tujuannya atau fadlil (utama), jihad perang fisik bersifat mafdlul (kalah utama), karena (sebagaimana menikah) melibatkan nafsu, dalam hal ini berupaya membunuh dan bersikap keras memaksa. Belum lagi perang fisik tidak selalu bebas dan cenderung dilakukan dan untuk tujuan kapitalistik, militeristik, dan keduniaan lainnya walaupun dengan embel-embel demi negara Islam. Seorang pelaku Tasawuf karenanya betul-betul penuh pertimbangan untuk melakukan hal ini. Petunjuk guru dan pertimbangan Syara’ dikedepankan di atas yang lain. Sesuai ayat mengenai keutamaan menuntut ilmu dan juga di dalam banyak riwayat hadis, Rasulullah tidak mengharuskan semua orang berperang, dan menyatakan keadaaan-keadaan dan amalan positif lain yang senilai dengan ikut bertempur.

Pengisian diri dengan unsur-unsur energi positif ini tujuannya menjadikan seseorang terdidik dengan sikap tunduk patuh kepada perintah syara’, disiplin, tabah dan teguh, dan banyak kualitas mental positif yang lain. Inilah makna futuwwah dalam Tasawuf. Muaranya, menjadi ahrar, bebas merdeka dari belenggu hawa nafsu, serta mendapatkan banyak jalan petunjuk keridhaan sebagaimana dinyatakan Al Qur’an:

والذين جاهدوا فينا لنهدينهم سبلنا (سورة العنكبوت : 69)

  • Kenikmatan pemberian Allah kepada siapapun yang ber-jihad tasawuf tersebut adalah terbukanya jalan-jalan rahmat, ‘pengalaman’ anugerah, dan akhirnya keridlaan Allah yang lebih banyak dari yang diperkirakan sebelumnya, dan yang tentu saja bermakna bagi perjalanan hidup di dunia dan kelak di akhirat.
  • *) Tulisan yang sama pernah dimuat di Majalah BANGKIT PWNU DIY
    **) Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yayasan Ali Maksum Yogyakarta

    (sumber foto: www.republika.co.id)

    Comments

    comments

    Powered by Facebook Comments

    About humaid