Inspirasi Santriwati “Menaklukkan” Negeri Sakura

Bantul, Senin (24/12/2012) krapyak.org. Pondok Krapyak patut berbangga dengan dikirimnya salah satu delegasi Ali Maksum ke Jepang dalam rangka pertukaran budaya yang diselenggarakan oleh AFS bekerja sama dengan JICE pada bulan November kemarin. Sebut saja Nahdiyana Fitri Hidayah, siswi kelahiran Indramayu 18 Maret 1995 atau biasa dipanggil Pipit oleh teman-teman sebayanya. Dengan mengalahkan ratusan siswa dan siswi seluruh Indonesia, Pipit menjadi satu-satunya perwakilan Jogja dari 30 perwakilan seluruh Indonesia yang tersaring. Dan dari 30 perwakilan Indonesia hanya Pipit dan satu temannya dari Mojokerto yang menjadi murid tempaan pondok pesantren.

Pipit berangkat dari Jogja tanggal 2 November 2012 dan tiba di Narita Airport pada jam 6 pagi keesokan harinya bersama beberapa perwakilan dari 14 negara di Asia Pasifik. Diantaranya, Brunei, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Vietnam, Australia, dan New Zealand. Pipit berada di Jepang selama 10 hari dan bertempat tinggal di sebuah apartemen di Kanazawa bersama keluarga angkatnya.

Seluruh peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan disebar ke seluruh penjuru Jepang. Setiap kelompok terdiri dari 11 peserta dari berbagai rumpun yang berbeda. Selain mempelajari budaya Jepang, Pipit juga mempelajari tentang bencana yang sering terjadi di Jepang, seperti tsunami, gempa dan lain-lain, sekaligus cara mengantisipasinya. Banyak kendala yang dialaminya mulai dari bahasa, iklim, dan makanan, dari kendala bahasa. Pipit diharuskan menggunakan bahasa Inggris setiap harinya dengan masyarakat sekitar. Meskipun didampingi seorang penerjemah, ia masih menggunakan bahasa seperlunya. Bahkan dengan keluarga angkatnya, Pipit masih kesulitan berkomunikasi karena minimnya pengetahuan berbahasa Inggris yang dimiliki keluarga angkatnya. Dan dari kendala iklim, Pipit harus beradaptasi dengan musim dingin yang sedang dialami Jepang saat itu, maka Pipit terpaksa merangkap empat pakaiannya agar dapat menangkal udara dingin yang menusuk.

Dari kendala makanan, Pipit hanya memakan sayur-sayuran dan seafood, karena mayoritas penduduk Jepang hanya memakan sayur-mayur dan makanan laut setiap harinya. Dari kendala waktu, Pipit sedikit kesulitan, karena waktu siang di Jepang lebih pendek daripada waktu malamnya. Jika matahari terbit di Jepang jam 6 maka matahari terbenam jam 3 sore, ini menjadi kesulitan tersendiri bagi Pipit untuk mengerjakan sholat lima waktu. Karena pembagian waktu yang sangat berbeda di negara asalnya.

Pipit juga melakukan studi banding di Fushimi High School Kanazawa. Kurikulum yang dianut sekolah tersebut sangat berbeda dengan di Indonesia. Jika kurikulum kita sekarang mengharuskan mempelajari lima mata pelajaran setiap harinya, maka di Jepang hanya dua mata pelajaran dengan durasi waktu yang hampir relatif sama. Pelajaran dimulai jam tujuh dan selesai jam dua, dan lebih banyak melakukan praktek daripada Indonesia yang hanya terpaku pada teori. Dan dari segi fasilitas mereka sangat difasilitasi seperti adanya kelas memanah, orkestra, memasak, dan ditunjang dengan perspustakaan super lengkap. “Tidak heran jika Jepang jauh lebih maju daripada Indonesia”, tegasnya.

Seperti kata pepatah, “jangan jadi katak dalam tempurung “, dengan adanya Pipit, Pondok Krapyak telah membuktikan bahwa anak-anak didiknya tidak hanya mampu menjadi “jago kandang”, tapi juga dapat bersaing di “luar”, bahkan di negeri orang. Diharapkan dengan capaian prestasi ini, dapat menjadi batu loncatan dan inspirasi bagi semua santri dan generasi muda lainnya. Di akhir wawancara Ia menjelaskan beberapa indikator terwujudnya mimpi yaitu harus aktif, jangan pernah takut untuk mencoba, dan percaya pada diri sendiri. Seperti tungkasnya “Banyak jalan menuju Roma”.

Tak ada yang menyangka, bahkan Pipit sendiri tak percaya secepat ini, mampu mewujudkan mimpi “menaklukkan” negeri sakura. tapi itulah hidup, buah mimpi dan kesungguhan membawanya menjelajahi Jepang dengan segala hiruk pikuknya. Kini, sekembalainya ia dari Negeri kimono itu, Pipit kembali menjalani hari-harinya sebagai santriwati Krapyak, mengaji dan bergelut dengan kitab dan buku pelajaran, belajar dan terus aktif mengikuti kegiatan Madrasah dan Pondok. Tak ada yang berubah, ia berharap buah pengalamannya menjadi inspirasi untuk teman-temannya di Pondok Krapyak untuk berani bermimpi dan bersungguh-sungguh dalam meraih sesuatu, apapun itu.

Tim media : Z.Hilmi dan W.Arif

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About humaid