Khutbah Jum’at: Jadikan Bulan Mawlud Istimewa Sepanjang Hari

Jadikan Bulan Mawlud Istimewa Sepanjang Hari

Oleh: H. Afif Muhammad S.Ag., M. A *)

الخطبة الأولى

إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره ونعوذ به من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا من يهده الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له وأشهد أن سيدنا محمدا عبده ورسوله. صلى الله على المصطفى خير الورى سجية وعلى آله وصحبه ومن والاه

أما بعد فيا عباد الله : أوصيني وإياكم بتقوى الله وطاعته ، لعلكم تفلحون. قال الله تعالى : أعوذ بالله من الشيطان الرجيم  بسم الله الرحمن الرحيم : قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ (س يونس : 58) وقال عزّ وجل : قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ( آل عمران : 31)

 

Kaum Muslimin, jama’ah Jum’at  رحمكم الله

Seperti telah kita ketahui bersama, bahwa bentuk-bentuk ajaran agama yang kita aktualisasikan tidak selalu berawal dari pernyataan-pernyataan normatif secara tersurat. Termasuk dalam hal ini adalah yang di minggu-minggu ini kita jalani, yakni hari-hari bulan mawlud nabi. Teks-teks normatif tidak ada yang secara pasti menyebutkan perayaan mawlid sebagai hal yang harus diibadahi, seperti halnya peringatan Hijrah 1 Muharram. Namun secara tersirat, dan kerangka yang lebih luas ; dalam maqasid syari’ah serta dalam kenyataan sosial, mawlid Nabi merupakan adat kebiasaan baik yang mengandung ibadah-ibadah, buah kompromi normatifitas dan dinamika ummat.

Khotib dalam kesempatan khutbah Jum’ah kali ini akan menguraikan secara singkat mengenai Bulan Mawlud, peringatan Mawlid, dan hikmah serta maknanya bagi diri kita sendiri dan masyarakat.

Hadirin jama’ah jum’at رحمكم الله

Bulan Rabi’ ul Awwal pada masa Arab pra Islam adalah bulan biasa. Tak ada yang istimewa. Yang dihormati orang Arab adalah Asyhurul Hurum, seperti Bulan Muharram, Dzulhijjah.

Para hadirin , justru inilah istimewa dan rahasianya. Nabi lahir di bulan biasa. Dapat dibayangkan pada masa jahiliyyah dulu, bila nabi lahir di bulan Muharram, tentu orang-orang akan menyatakan itu karena berkah Bulan Muharram. Kalau beliau sallahu alaihi wasallam lahir di Bulan Dzulhijjah, tentu kesibukan kawasan Arab dan dunia Islam dengan hajji akan mengecilkan arti kelahiran beliau.

Namun Allah menghendaki Nabi-Nya, hari, dan bulan kelahirannya adalah istimewa.

Bagaimana tidak. Muhammad sallahu alaihi wasallam adalah hamba utusanNya, Nabinya. Jadi memang beliau manusia biasa tapi bukan sembarangan.

محمد بشر لا كالبشر    بل هو كالياقوت بين الحجر

Muhammad adalah manusia biasa, namun bukan seperti manusia biasa lainnya

Ia bagai batu mulia mirah Rubi, di banding sembarang batu lainnya.

Dialah yang addal amanah, melaksanakan amanah, ballagharrisalah, dalam bentuk menyampaikan pesan kenabian, nashahal ummah, berbuat baik untuk ummah. Kalau kenikmatan terbesar adalah nikmah Islam, maka itu terjadi dengan adanya Nabi pembawa Islam. Karenanya, berterima kasih kepada Tuhan, dengan cara bersyukur atas nikmat adanya Nabi dan ajarannya, adalah kata kunci memahami Mawlud.

Allah memilih Bulan Rabi’ul Awwal menjadi bulan kelahiran Nabi, maka jadilah bulan Mawlud, bulan yang mulia. فشرف الشهر بكونه ميلادا للنبي صلى الله عليه وآله وسلم.

Ini seperti kata penyair :

ما إذ مدحت محمدا بقصيدتي          ولكن مدحت قصيدتي بمحمد

Kalaupun aku memuji Muhammad dengan bait-bait puisi ku, sebenarnya bukan hanya untuk itu

Namun aku ingin memuja puisiku dengan menyebut-nyebut Muhammad

Shallahu alaihi wa alihi wasallam.

Jadilah, kelahiran Nabi dan peringatannya oleh kaum muslimin menjadi ciri utama bulan ini. Kalau bulan Ramadlan untuk puasa, Bulan Dzulhijjah untuk berhaji, Bulan Rabiul awwal untuk bermawludan. Inilah hari-hari sejarah hidup nabi dibacakan, hari di mana sesama muslim saling bertemu silaturahmi, hari-hari saat sedekah disebar di kalangan masyarakat. Mawlud secara sosial menjadi bulan yang bermakna lebih.

Lebih dari seratus tahun lalu, Snouck Hurgronje peneliti ahli ketimuran Belanda mencatat Bulan Mawlud adalah bulan istimewa dan semarak di Makkah. Dan itu telah berlangsung ratusan tahun. Morion Holmez Kants dalam buku hasil penelitiannya yang terbit dua tahun lalu mengenai antropologi Pembacaan Mawlid menyatakan tradisi kerakyatan ini telah berlangsung seribuan tahun lalu, dan sampai sekarang memiliki makna religius, sosial, ekonomis dan politis di dunia Islam.

Hadirin رحمكم الله

Kalau peringatan tahun baru Hijrah merupakan sebentuk sarana introspeksi diri di dalam gerakan umum sosial kemasyarakatan, maka peringatan Mawlid merupakan peringatan bagi diri kita masing-masing, bagaimana kita selalu memerlukan sosok, model, uswah, dalam menempa diri dalam hidup, menginternalisasi ajaran agama dan dalam cara beraktualisasi diri dalam pergaulan dengan Tuhan dan sesama makhluq-Nya. Sosok dan model itu ada pada Nabi yang kita peringati kelahirannya.

Peringatan mawlud Nabi yang kita rayakan di dalam majlis-majlis mawlid, bukan saja untuk menyanjung-nyanjung beliau, hal yang memang beliau sendiri tidak pernah menolaknya, namun juga untuk kepentingan kita di dalam mematutkan diri ke dalam cermin sejarah nabi dan menapaktilasi perjuangannya. Perayaan ini juga mengandung manafi’ dan fawaid bagi kita sebagai bagian masyarakat di lingkungan terdidik, untuk membina masyarakat, mengenalkan mereka dengan Nabinya untuk kemudian mencintai dan melaksanakan ajarannya. Secara tersirat ini adalah jelas ibadah-ibadah yang dianjurkan.

Semoga kita semua mendapat hidayah untuk lebih memahami dan menerapkan ajaran Rasulullah khususnya dalam peringatan Mawlid Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.

هذا وأستغفر الله لي ولكم إنه كان غفارا.

الخطبة الثانية

*) Penulis adalah Pengasuh Pesantren Ali Maksum Krapyak dan staf Pengajar STAIN Purwokerto

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

About humaid