Sudah Ada Ijin dari yang Punya ?

Senang sekali kemarin bisa mengikuti peresmian Pesantren dan Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur`an al-Hikam di Depok, yang diasuh oleh KH. Hasyim Muzadi. Apalagi sesudah acara diadakan seminar tafsir al-Qur`an.

Pak Hasyim Muzadi dalam sambutannya menjelaskan maksud didirikannya Pesantren dan Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur`an al-Hikam. Beliau juga sempat bercerita susahnya mendidik santri mahasiswa. Bagaimana tidak? Pondok masih dianggap seperti kos-kosan. Beliau cerita, suatu ketika ada mahasiswa datang ke Pondok dan nanya kepada beliau: “Om, om, masih ada kamar gak?” 🙂

Mengajari mereka yang biasanya berfikir rasional, kritis, bebas dan terbiasa dengan statistik tentu berbeda dengan mengajari santri yang memang sejak kecil terbiasa dengan pergaulan pesantren. Pendekatan yang kemudian harus dilakukan adalah menekankan pendidikan akhlaq dan spiritualitas Beliau juga cerita bagaimana susahnya mengajari santri mahasiswa untuk membiasakan diri memakai sarung. Menurut beliau, karena pendekatannya tepat, mereka dalam jangka 6 bulan saja sudah terbiasa sendiri memakai sarung. Dan ketika ditanyakan kenapa mereka sudah terbiasa memakai sarung, mereka sudah bisa menjawab sendiri: “Karena memakai sarung itu di samping praktis dan isis, yang di dalampun bisa lebih demokratis.” 🙂

*********

Pengalaman mengasuh pesantren selama 20 tahun menginspirasi Pak Hasyim untuk membuat model pendidikan dengan pola yang beliau istilahkan sendiri dengan “pola berpasangan” (couple system). Hal ini karena dalam pandangan beliau, lulusan sekolah menengah bisa diklasifikasi menjadi dua: orang yang sudah benar (maksudnya, lulusan-lulusan pesantren) dan orang yang sudah pintar (maksudnya adalah lulusan-lulusan sma yang belum tahu pendidikan agama dan bahasa Arab sama sekali). Dari asumsi ini, beliau kemudian membuat Kulliyatul Qur`an dan Pesantren Mahasiswa. Beliau merumuskan: yang pertama bergerak dari “benar” ke “pintar”, sedang yang kedua bergerak dari “pintar” ke “benar”. Pada kuliahnya di tahun ke-3 dan ke-4, kedua jalur ini akan bertemu, dan menciptakan orkestrasi yang tentu saja indah, dalam pengertian, mereka bukan hanya siap dalam menghadapi zaman, tapi juga siap dalam mengatasi zaman.

Pada pandangan Pak Hasyim, “membuat pintar orang-orang yg benar lebih mudah daripada menjadikan benar orang-orang yg pintar.” Pola berpasangan ditawarkan untuk memberi kesepadanan dan keseimbangan lulusan pesantren, yang diharapkan bukan hanya ahli ilmu agama tapi juga mengerti dengan ilmu alam, ilmu sosial dan ilmu-ilmu yang disiapkan guna memenuhi kebutuhan modernitas itu sendiri.

Pak Hasyim kemudian menawarkan beberapa pendekatan guna keberhasilan pola kopel ini, antara lain:

  1. Penekanan ilmu bukan hanya dalam aspek ilmiah tapi juga bersifat amaliah. Ilmu bukan sekedar wacana, tapi harus diamalkan dan diaplikasikan demi kebaikan bangsa dan peradaban.
  2. Pengkonotasian al-Qur`an dalam ilmu-ilmu kauniyat hasil kajian (dirasat) dan eksperimen (tajribah). Beliau memandang penting kerja bersama antara kajian dan latihan, seperti halnya mengetahui kebenaran dan cara. Apabila hanya salah satu aspek saja dari keduanya, akan berbahaya.
  3. Melengkapi kajian dan pendalamannya dengan memberi tambahan-tambahan materi kebangsaan, ilmu teknologi, kewirausahaan dan tentu saja pengabdian sosial.

Khusus Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur`an, Pak Hasyim memberikan beasiswa pendidikan dan asrama, alias gratis tanpa biaya. Sekolah ini dikhususkan bagi yang sudah hafal al-Qur`an, berijazah setingkat sma, memiliki kecakapan bahasa Arab dan Inggris, dan berusia antara 18-25 tahun. Yang menarik, ketika akan membuka Pesantren al-Qur`an ini, beliau didatangi oleh kiai sepuh yang menanyakan kepada beliau:

Kiai: Opo wis ono kurungane (apa sudah ada pondoknya)?
Pak Hasyim menjawab: Sampun (sudah).
Kiai tadi tanya lagi: Opo wis ono manuke (apa sudah ada burungnya)? Maksudnya: sudah ada santrinya?
Beliau menjawab: Sampun, sekawan doso lare (sudah ada, jumlahnya empatpuluh anak).
Kiai tanya lagi: Opo wis entuk ijin sing nduwe (apa sudah ada izin dari yang punya)?

Pak Hasyim gak bisa jawab. Beliau langsung pergi ke Multazam, depe-depe mohon ampun dan berdoa agar Kulliyatul Qur`an berjalan dengan baik. Subhanallah.

“Apa sudah ada izin dari yang punya”. Jero banget (dalam sekali) pertanyaannya. Bagaimana menurut anda?

Oleh H. Hilmi Muhammad, PhD
Pengasuh Pondok Pesantren Ali Maksum Krapyak dan dosen di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments

comments

Powered by Facebook Comments

Tags:

About editor